Kemarin aku
pulang sekolah lebih sore dari biasanya. Sesampainya di rumah ibuku memarahi
ku. Suaranya memecah gendang telingaku aku kesal memang nya salah jika aku
bermain untuk menghilangkan rasa bosan. Keesokan harinya aku kembali melakukan
hal yang sama karena alasan yang sama. Ibuku pun kembali memarahiku dengan nada
yang memecah telingaku. Hal itu semakin membuat aku bosan di rumah akhirnya aku
memutuskan untuk bermain hingga larut malam. Saat aku kembali ibuku kembali
memaki ku kali ini kata-katanya sedikit berbeda dan nada bicaranya lebih
tinggi. Aku sudah mulai geram dengan kemarahan ibuku. Keesokan harinya aku
memutuskan untuk kembali kerumah pada malam hari. Ibuku terus-menerus
menghubungiku tapi aku tidak peduli. Lebih baik aku menikmati kesenangan
bersama teman-temanku dari pada harus pulang dan mendengar ocehan ibuku yang
tak pernah henti. Aku sadar ketika aku pulang nanti aku pasti akan habis di
marahi ibuku dan aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ibuku. Malam itu
aku pulang benar-benar larut masih dengan seragam ku. Seperti yang sudah ku
duga sebelumnya. Aku datang disambut dengan amarahnya yang memuncak.
Kepulanganku seperti nya tidak ada artinya bagi Ibuku. Akhirnya aku dan ibuku
terlibat adu mulut yang sengit hingga menimbulkan pertengkaran. Setengah jam
berlalu pertengkaran itupun selesai dan aku dapat tidur nyenyak. Keesokan
harinya ibuku tak mau menemuiku bahkan ia tidak menjawab panggilanku mungkin
ibuku masih kesal denganku. Hari ini aku tenang tidak ada lagi ibu yang
memarahi ku jika aku pulang sore atau pun larut malam. Aku bebas pulang kapan
saja bahkan tidak pulang sekalipun, karena ibuku sudah tertidur lelap bersama
pisau yang masih menancap di perutnya.