Senin, 23 November 2015

Ibuku Sudah Tidur

Kemarin aku pulang sekolah lebih sore dari biasanya. Sesampainya di rumah ibuku memarahi ku. Suaranya memecah gendang telingaku aku kesal memang nya salah jika aku bermain untuk menghilangkan rasa bosan. Keesokan harinya aku kembali melakukan hal yang sama karena alasan yang sama. Ibuku pun kembali memarahiku dengan nada yang memecah telingaku. Hal itu semakin membuat aku bosan di rumah akhirnya aku memutuskan untuk bermain hingga larut malam. Saat aku kembali ibuku kembali memaki ku kali ini kata-katanya sedikit berbeda dan nada bicaranya lebih tinggi. Aku sudah mulai geram dengan kemarahan ibuku. Keesokan harinya aku memutuskan untuk kembali kerumah pada malam hari. Ibuku terus-menerus menghubungiku tapi aku tidak peduli. Lebih baik aku menikmati kesenangan bersama teman-temanku dari pada harus pulang dan mendengar ocehan ibuku yang tak pernah henti. Aku sadar ketika aku pulang nanti aku pasti akan habis di marahi ibuku dan aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ibuku. Malam itu aku pulang benar-benar larut masih dengan seragam ku. Seperti yang sudah ku duga sebelumnya. Aku datang disambut dengan amarahnya yang memuncak. Kepulanganku seperti nya tidak ada artinya bagi Ibuku. Akhirnya aku dan ibuku terlibat adu mulut yang sengit hingga menimbulkan pertengkaran. Setengah jam berlalu pertengkaran itupun selesai dan aku dapat tidur nyenyak. Keesokan harinya ibuku tak mau menemuiku bahkan ia tidak menjawab panggilanku mungkin ibuku masih kesal denganku. Hari ini aku tenang tidak ada lagi ibu yang memarahi ku jika aku pulang sore atau pun larut malam. Aku bebas pulang kapan saja bahkan tidak pulang sekalipun, karena ibuku sudah tertidur lelap bersama pisau yang masih menancap di perutnya.