Jumat, 12 Februari 2016

PETAK UMPET

Aku memiliki empat teman disekitar rumahku. Di antara mereka aku adalah anak yang paling culun mereka kerap menjadikan aku objek candaan yang terkadang kelewatan. Mereka sering mengerjaiku, memukul ku, menyuruh-nyuruh aku bahkan satu ketika mereka pernah membakar celalnaku. Aku selalu diam dan seakan menerima semua perlakuan mereka tapi, sewaktu sore itu. Aku kembali kerumah dengan tangisan karena mereka memasukanku ke dalam penampungan air yang besar dan masih terisi air. Ibuku marah, ibuku tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu tapi, ibuku tidak ingin membuat perhitungan kepada teman-temanku. Ibuku ingin aku mandiri, ibuku menyuruh aku untuk melawan mereka. Aku bingung bagaimana bisa aku melawan mereka yang jelas lebih banyak dari aku dan lebih kuat dari aku. Keesokan sorenya keempat temanku mengajak aku bermain petak umpat di rumah kosong yang sudah lama tak berpenghuni. Rumah kosong itu terkenal angker dan memiliki sumur tua di samping rumah yang konon di huni oleh nenek-nenek yang mati bunuh diri disana. Aku bermain dari siang, awalnya aku fikir mereka sudah mulai baik kepadaku tetapi aku sadar bahwa ini adalah bagian dari permainan mereka. Mereka kembali mengerjai ku dengan membuat aku selalu menjaga dan mencari mereka. Sampai akhirnya aku berhasil berhenti berjaga dan ikut mengumpat bersama mereka. Anehnya si A salah satu temanku tak kunjung ditemui padahal hari semakin sore. Kami semua mencarinya dan tidak ada satu orangpun yang menemukannya. Akhirnya kami berhenti mencari dan memutuskan menyudahi permainan dan pulang. Keesokan harinya kami kembali bermain dirumah itu dengan harapan bisa menemukan teman kami yang hilang kemarin. Mereka berhenti mengerjaiku salah satu dari mereka bilang “mungkin penunggu rumah ini marah jika kita berbuat iseng”. Hingga sore hari tak ada satupun jejak keberadaan salah satu temanku yang hilang kemarin. Dan ketika kami memutuskan untuk menyudahi permainan kami kembali kehilangan salah satu teman kami. Padahal lima menit sebelum hilang aku masih melihat si B mengumpat tak jauh dari aku. Kami orang tua kami semua dibuat heran begitupun kami. Keesokan harinya aku dan kedua teman ku yang tersisa kembali ke rumah untuk mencari kedua teman kami. Saat itu kami berpencar untuk menelusuri setiap sudut rumah. Si C adalah anak yang penakut jadi ketika dia meminta aku untuk menemaninya dengan senang hati aku melakukannya. Aku bersama si C pergi ke halaman belakang tepatnya di sumur tua. Sementara si D menelusuri sisi kanan rumah. Ketika aku berada tepat di muka sumur tua itu aku dikejutkan dengan kedatangan si D dan ia pun terkejut. Si D berlari secepat mungkin untuk menjauhi ku, tapi karena si D adalah anak yang gendut aku berhasil menghentikan larinya. Aku memutuskan untuk kembali pulang karena sudah hampir gelap. Akhirnya aku bisa pulang dengan hati yang sangat bahagia. Aku katakan pada ibuku “Ibu kali tak akan ada lagi yang menggangguku dan membuat aku menangis”. “Bagus jika kau berhasil melawan mereka kau memang anak ibu yang hebat” begitu kata ibuku.

Keesokan hari nya ketua RT di buat geger dengan cerita ibu-ibu yang kehilangan anaknya di rumah tua itu. Ketua RT pun menyuruh warga untuk mencari jejak keempat anak itu. Ketika aku dan ibuku tiba di rumah tua yang sedang di kerumuni warga. Aku melihat empat mayat, 3 mayat dalam keadaan basah dan 1 orang dalam keadaan kering. Ketiga orang itu adalah ketiga temanku yang aku dorong ke sumur tua dan satu lagi adalah si gendut yang aku pukul dengan batu dikepalanya. Aku tersenyum puas “kau lihat ibu aku bukan Cuma melawan mereka tetapi aku berhasil menyingkirkan mereka” “kau hebat nak” salut ibuku. Kemudian seorang warga menghampiriku “Hei bukannya kau yang terakhir bermain bersama mereka” tanya warga itu padaku “hah, bapak becanda mereka selalu memusuhiku mana mungkin aku bermain dengan mereka”ucapku dengan tenang. Dan semua warga percaya jika itu adalah ulah hantu di rumah tua itu. Akhirnya aku bisa hidup tenang di tempat tinggalku yang baru dengan teman-teman yang lebih baik. 

1 komentar: