Aku memiliki empat teman
disekitar rumahku. Di antara mereka aku adalah anak yang paling culun mereka
kerap menjadikan aku objek candaan yang terkadang kelewatan. Mereka sering
mengerjaiku, memukul ku, menyuruh-nyuruh aku bahkan satu ketika mereka pernah membakar
celalnaku. Aku selalu diam dan seakan menerima semua perlakuan mereka tapi,
sewaktu sore itu. Aku kembali kerumah dengan tangisan karena mereka memasukanku
ke dalam penampungan air yang besar dan masih terisi air. Ibuku marah, ibuku
tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu tapi, ibuku tidak ingin membuat
perhitungan kepada teman-temanku. Ibuku ingin aku mandiri, ibuku menyuruh aku
untuk melawan mereka. Aku bingung bagaimana bisa aku melawan mereka yang jelas
lebih banyak dari aku dan lebih kuat dari aku. Keesokan sorenya keempat temanku
mengajak aku bermain petak umpat di rumah kosong yang sudah lama tak
berpenghuni. Rumah kosong itu terkenal angker dan memiliki sumur tua di samping
rumah yang konon di huni oleh nenek-nenek yang mati bunuh diri disana. Aku
bermain dari siang, awalnya aku fikir mereka sudah mulai baik kepadaku tetapi
aku sadar bahwa ini adalah bagian dari permainan mereka. Mereka kembali
mengerjai ku dengan membuat aku selalu menjaga dan mencari mereka. Sampai
akhirnya aku berhasil berhenti berjaga dan ikut mengumpat bersama mereka.
Anehnya si A salah satu temanku tak kunjung ditemui padahal hari semakin sore.
Kami semua mencarinya dan tidak ada satu orangpun yang menemukannya. Akhirnya
kami berhenti mencari dan memutuskan menyudahi permainan dan pulang. Keesokan
harinya kami kembali bermain dirumah itu dengan harapan bisa menemukan teman
kami yang hilang kemarin. Mereka berhenti mengerjaiku salah satu dari mereka
bilang “mungkin penunggu rumah ini marah jika kita berbuat iseng”. Hingga sore
hari tak ada satupun jejak keberadaan salah satu temanku yang hilang kemarin.
Dan ketika kami memutuskan untuk menyudahi permainan kami kembali kehilangan
salah satu teman kami. Padahal lima menit sebelum hilang aku masih melihat si B
mengumpat tak jauh dari aku. Kami orang tua kami semua dibuat heran begitupun
kami. Keesokan harinya aku dan kedua teman ku yang tersisa kembali ke rumah
untuk mencari kedua teman kami. Saat itu kami berpencar untuk menelusuri setiap
sudut rumah. Si C adalah anak yang penakut jadi ketika dia meminta aku untuk
menemaninya dengan senang hati aku melakukannya. Aku bersama si C pergi ke
halaman belakang tepatnya di sumur tua. Sementara si D menelusuri sisi kanan
rumah. Ketika aku berada tepat di muka sumur tua itu aku dikejutkan dengan
kedatangan si D dan ia pun terkejut. Si D berlari secepat mungkin untuk
menjauhi ku, tapi karena si D adalah anak yang gendut aku berhasil menghentikan
larinya. Aku memutuskan untuk kembali pulang karena sudah hampir gelap.
Akhirnya aku bisa pulang dengan hati yang sangat bahagia. Aku katakan pada
ibuku “Ibu kali tak akan ada lagi yang menggangguku dan membuat aku menangis”. “Bagus
jika kau berhasil melawan mereka kau memang anak ibu yang hebat” begitu kata
ibuku.
Keesokan hari nya ketua RT di
buat geger dengan cerita ibu-ibu yang kehilangan anaknya di rumah tua itu. Ketua
RT pun menyuruh warga untuk mencari jejak keempat anak itu. Ketika aku dan
ibuku tiba di rumah tua yang sedang di kerumuni warga. Aku melihat empat mayat,
3 mayat dalam keadaan basah dan 1 orang dalam keadaan kering. Ketiga orang itu
adalah ketiga temanku yang aku dorong ke sumur tua dan satu lagi adalah si
gendut yang aku pukul dengan batu dikepalanya. Aku tersenyum puas “kau lihat
ibu aku bukan Cuma melawan mereka tetapi aku berhasil menyingkirkan mereka” “kau
hebat nak” salut ibuku. Kemudian seorang warga menghampiriku “Hei bukannya kau
yang terakhir bermain bersama mereka” tanya warga itu padaku “hah, bapak
becanda mereka selalu memusuhiku mana mungkin aku bermain dengan mereka”ucapku
dengan tenang. Dan semua warga percaya jika itu adalah ulah hantu di rumah tua
itu. Akhirnya aku bisa hidup tenang di tempat tinggalku yang baru dengan
teman-teman yang lebih baik.
Gila trijul. Ada aja ceritanya wkwk
BalasHapus