Pagi itu,
seperti biasa aku harus mengatarkan tubuhku menyabut rutinitas yang selalu
membuatku terasa bodoh. Badut pesta, mungkin itu julukan yang tepat untukku.
Aku menyebut diriku demikian sebab, aku diciptakan oleh Tuhan hanya untuk menjadi
bahan tertawaan orang lain. Aku terdampar di tempat yang amat ku benci ini. Tempat dimana
aku menemukan wujud asli dari seorang iblis. Sebut saja A, dia adalah wanita
yang ku akui kecantikan nya namun sayang, paras cantiknya tak membuat ia terlihat
seperti manusia dimataku. Dia adalah salah satu penyebab utama mengapa aku
selalu ditertawakan oleh kebanyakan orang di tempat ini. Jelas sekali aku
membencinya dalam diam dan semakin hari perbuatannya semakin membuat ku ingin
mengutuk dirinya.
Malam ini
akan menjadi mimpi buruk untukku karena aku harus menghabiskan waktu lemburku
bersamanya. Namun, kurasakan inipun akan menjadi mimpi buruk untuknya karena
harus bersama dengan aku. Aku yang sedari tadi menatap layar persegi di
hadapanku harus mendengar selingan hinaan-hinaan yang bahkan aku tak dapat lagi
menghitungnya. Lelah sekali rasanya akupun melenggangkan kaki menuju pantry di
sudut kantor. Secangkir kopi hangat ku rasa sangat cukup untuk mengembalikan
daya pikirku. Malam ini suhu ruangan tak seperti biasanya terasa lebih dingin
dari biasanya. Untunglah aku sempat mengantongi sarung tangan yang sebenarnya
tak biasa ku bawa.
Dentingan
jarum jam di pantri menunjukan pukul 11.00 tak lama kemudian listrik kantor
mulai padam. “SIALAN!” Umpatku. Untung saja aku bukan seorang penakut. Pada tegukkan terakhir aku mulai menyusuri kantor untuk meninggalkan pantry dan ku
temui dia di meja kerjanya. Aku mencuri dengar ia mengeluhkan listrik yang
padam ini entah, satpam atau teknisi listrik dibalik telepon nya itu. Saat ini,
aku hanya punya waktu setengah jam untuk segera menyelesaikan pekerjaanku lalu,
bergegas untuk pulang sebelum dia tersadar. Setengah jam berlalu, listrik tak
kunjung memberikan cahaya. “Bodoh sekali mereka menanganinya”, umpatku dalam
hati. Pekerjaanku pun selesai dan aku memutuskan untuk pulang. Aneh, ketika aku
melewati meja kerjanya ia, tersenyum lebar kepadaku seakan mengucapaikan
selamat malam. Namun, aku hanya membalas senyumnya dan tak ingin mengambil alih
pikiranku untuk memecahkan keanehan ini.
Keesokan
paginya aku digegerkan oleh hiruk-pikuk kantor yang tak biasanya. Gelagat ketakutan
dan keheranan menyelimuti keseluruhan kantor. Oh rupanya, ada seseorang yang
memasuki kantor pada malam tadi. “Astaga, itu artinya tepat saat aku lembur
untung saja aku pulang lebih dulu dari dia”, batinku. “hei kau bukankah kau
lembur tadi malam?” ujar salah satu rekanku. “ya, tapi sepertinya Tuhan telah
menyelamatkan nyawaku”, jawabku. Benar saja, kejadian itu terjadi tepat saat aku
sudah pulang dan dia menjadi korban atas kejadian penyerangan itu. Tiga hari selepas malam itu, aku tak lagi bertukar tatap dengannya. Tenang sekali
rasanya dunia kerjaku walau hinaan itu tetap ada. Setidaknya ada satu biang
masalah yang kini tak lagi menjadi masalah untukku.
Pada hari
ini aku akan melakukan penerbangan ke kota New York. Aku dengan segala kerendahan
hatiku memutuskan untuk menyapanya di rumah sakit. Sesampainya disana kutemukan
seorang wanita yang tak berdaya tergelekan di ranjang yang tak cukup besar
untuk dirinya. Aku hampir saja menangis melihat keadaan nya saat ini. Dokter
bilang seseorang menyerangnya dengan memotong lidahnya dan membawa pergi bola
matanya untung saja, aku membawakan nya sebuah kotak kecil. Ya, aku rasa
sepasang bola mata biru yang ku berikan padanya cukup untuk menghiburnya
walaupun, bola mata yang tersimpul pada potongan lidahnya itu takan lagi mendapat tempat di
wajah cantik yang ku kagumi itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar