Sabtu, 21 Maret 2020

Bola Mata Biru


            Pagi itu, seperti biasa aku harus mengatarkan tubuhku menyabut rutinitas yang selalu membuatku terasa bodoh. Badut pesta, mungkin itu julukan yang tepat untukku. Aku menyebut diriku demikian sebab, aku diciptakan oleh Tuhan hanya untuk menjadi bahan tertawaan orang lain. Aku terdampar di tempat yang amat ku benci ini. Tempat dimana aku menemukan wujud asli dari seorang iblis. Sebut saja A, dia adalah wanita yang ku akui kecantikan nya namun sayang, paras cantiknya tak membuat ia terlihat seperti manusia dimataku. Dia adalah salah satu penyebab utama mengapa aku selalu ditertawakan oleh kebanyakan orang di tempat ini. Jelas sekali aku membencinya dalam diam dan semakin hari perbuatannya semakin membuat ku ingin mengutuk dirinya.
            Malam ini akan menjadi mimpi buruk untukku karena aku harus menghabiskan waktu lemburku bersamanya. Namun, kurasakan inipun akan menjadi mimpi buruk untuknya karena harus bersama dengan aku. Aku yang sedari tadi menatap layar persegi di hadapanku harus mendengar selingan hinaan-hinaan yang bahkan aku tak dapat lagi menghitungnya. Lelah sekali rasanya akupun melenggangkan kaki menuju pantry di sudut kantor. Secangkir kopi hangat ku rasa sangat cukup untuk mengembalikan daya pikirku. Malam ini suhu ruangan tak seperti biasanya terasa lebih dingin dari biasanya. Untunglah aku sempat mengantongi sarung tangan yang sebenarnya tak biasa ku bawa.
            Dentingan jarum jam di pantri menunjukan pukul 11.00 tak lama kemudian listrik kantor mulai padam. “SIALAN!” Umpatku. Untung saja aku bukan seorang penakut. Pada tegukkan terakhir aku mulai menyusuri kantor untuk meninggalkan pantry dan ku temui dia di meja kerjanya. Aku mencuri dengar ia mengeluhkan listrik yang padam ini entah, satpam atau teknisi listrik dibalik telepon nya itu. Saat ini, aku hanya punya waktu setengah jam untuk segera menyelesaikan pekerjaanku lalu, bergegas untuk pulang sebelum dia tersadar. Setengah jam berlalu, listrik tak kunjung memberikan cahaya. “Bodoh sekali mereka menanganinya”, umpatku dalam hati. Pekerjaanku pun selesai dan aku memutuskan untuk pulang. Aneh, ketika aku melewati meja kerjanya ia, tersenyum lebar kepadaku seakan mengucapaikan selamat malam. Namun, aku hanya membalas senyumnya dan tak ingin mengambil alih pikiranku untuk memecahkan keanehan ini.
            Keesokan paginya aku digegerkan oleh hiruk-pikuk kantor yang tak biasanya. Gelagat ketakutan dan keheranan menyelimuti keseluruhan kantor. Oh rupanya, ada seseorang yang memasuki kantor pada malam tadi. “Astaga, itu artinya tepat saat aku lembur untung saja aku pulang lebih dulu dari dia”, batinku. “hei kau bukankah kau lembur tadi malam?” ujar salah satu rekanku. “ya, tapi sepertinya Tuhan telah menyelamatkan nyawaku”, jawabku. Benar saja, kejadian itu terjadi tepat saat aku sudah pulang dan dia menjadi korban atas kejadian penyerangan itu. Tiga hari selepas malam itu, aku tak lagi bertukar tatap dengannya. Tenang sekali rasanya dunia kerjaku walau hinaan itu tetap ada. Setidaknya ada satu biang masalah yang kini tak lagi menjadi masalah untukku.
            Pada hari ini aku akan melakukan penerbangan ke kota New York. Aku dengan segala kerendahan hatiku memutuskan untuk menyapanya di rumah sakit. Sesampainya disana kutemukan seorang wanita yang tak berdaya tergelekan di ranjang yang tak cukup besar untuk dirinya. Aku hampir saja menangis melihat keadaan nya saat ini. Dokter bilang seseorang menyerangnya dengan memotong lidahnya dan membawa pergi bola matanya untung saja, aku membawakan nya sebuah kotak kecil. Ya, aku rasa sepasang bola mata biru yang ku berikan padanya cukup untuk menghiburnya walaupun, bola mata yang tersimpul pada potongan lidahnya itu takan lagi mendapat tempat di wajah cantik yang ku kagumi itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar